google-site-verification=I3gsFmhNnwraRTClYNy7Zy_HRGb_d1DkfDUi6e1xs34 KALSIUM ~ Medik Veteriner Mas Sehat | Blog Tentang Kesehatan | Mas Sehat ~ Blog Tentang Kesehatan | www.mas-sehat.com

KALSIUM


KALSIUM

Dalam tubuh makhluk hidup terutama manusia, logam dan mineral mengalami proses biometabolik dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan toksisitas. Dalam sistim fisiologis manusia, unsur tersebut juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu unsur makro dan mikro. Unsur makro ditemukan dalam jumlah relatif besar (lebih dari 0,005% berat badan),dan unsur mikro ditemukan dalam jumlah relatf kecil (kurang dari 0,005%). Unsur makro dari mineral adalah kalsium(Ca), fosfor(P), potassium/kalium(K), sulfur/belerang(S), sodium/natrium(Na), klor(Cl), dan magnesium(Mg), sedangkan unsur mikro dari logam adalah timbal(Pb), merkuri(Hg), arsen(Ar), kadmium(Cd), dan alumunium(Al).
Ion kalsium bebas terdapat dalam  cairan tubuh yang diperlukan untuk koagulasi darah, kontraksi normal otot jantung, otot rangka dan fungsi syaraf Ganong, 1990). Kalsium juga sebagai katalisator berbagai proses dalam biologi tubuh dan mempertahankan fungsi membran sel  (Suharjo dkk., 1990).
Kalsium dalam tulang sangat penting dalam susunan komposisinya, berat kering tulang mengandung sekitar 460 g Ca/kg, 360 g protein/kg dan 180 g lemak/kg. Kenaikan fosfat menurunkan kelarutan kalsium dalam usus besar maupun dalam darah. Kadar fosfat dan kadar kalsium cenderung bervariasi terbalik  karena  kenaikan baik pada kadar kalsium maupun pada kadar fosfat dapat melebihi hasil kelarutan kalsium fosfat yang selanjutnya menyebabkan pembentukan kompleks  kalsium fosfat yang tidak larut.
Absorbsi ion kalsium yang terutama terjadi didalam bagian atas usus halus. Kalsium ditransportasi secara aktif keluar dari usus oleh suatu sistem pada brush border sel epitel yang menyertakan ATpase kalsium dependen, dan proses ini diatur oleh 1,25-dihidroksikolekalsiferol (dan metabolit aktif lain dari vitamin D), disertai kerja hormon paratiroidea yang sinergis. Absorbsi kalsium akan berkurang apabila ada zat-zat yang membentuk garam yang tidak larut dengan kalsium seperti: fosfat dan oksalat, atau oleh alkali, yang memudahkan pembentukan sabun kalsium yang tidak larut (Baron, 1995 dan Ganong, 1990).
            Dalam keadaan normal semua komponen yang berperan dalam pengaturan kalsium akan bekerja secara teratur dan sejalan, tetapi apabila salah satu dari kompnen tersebut mengalami gangguan atau perubahan fungsi maka kaan mempengaruhi pula pada kadar kalsiun dalam darah sehingga dapat terjadi  hiperkalsemia yaitu; suatu keadaan dimana terjadi peningkatan level total kalsium serum, atau hipokalsemia yaitu; penurunan konsentrasi total kalsium serum.

HIPERKALSEMIA
Hiperkalsemia merupakan suatu keadaan meningkatnya kadar kalsium darah diatas jumlah normal. Hiperkalsemia biasanya terjadi akibat kelebihan pemecahan tulang, baik karena hiperparatiroidisme,penyakit keganasan termasuk mielomatosis atau kadang-kadang karena imobilisasi.
Keadaan – keadaan yang menyebabkan terjadinya hiperkalsemia:
            1. HYPERVITAMINOSIS D
            Kelebihan dosis vitamin D akan menimbulkan efek peningkatan absorpsi kalsium, karena vitamin D berperan penting dalam penyerapan kalsium dalam usus. Meningkatnya jumlah vitamin D dalam akan meningkatkan pula penyerapan kalsium dalam usus sehingga kadar kalsium juga akan meningkat dalam darah. Terdapat hiperkalsemia progresif disertai fosfat urea yang normal atau meningkatserta meningkatkan depresi sekunder aktvitas paratiroidea. Gejala hiperkalsemia dan pengendapan kalsium dalam jaringan akan timbul bila kelebihan vitamin D tidak segera di tanggulangi.

2.      HYPERPARATIROIDISME PRIMER
            Hiperparatiroidisme primer mungkin disebabkan oleh tumor benigna maligna dari satu atau lebih glandula paratiroidea atau oleh hyperplasia semua glandula ini. kelebihan paratiroid hormom (PTH) akan menimbulkan peningkatan konsentrasi kalsium plasma, karena kerja PTH sejalan dengan kalsium. Dimana peningkatan PTH akan merangsang peningkatan absopsi  kalsium dalam usus dan peningkatan reabsorpsi kalsium dari tulang dan peningkatan steoblastik sehingga kadar kalsium dalam darah akan meningkat.
            Hiperkalsemia akibat hiperparatiroidisme primer ini akan memperlihatkan tanda-tnada kehilangan nafsu makan dan hipotonisitas otot. Mungkin ada nyeri  dan ulkus duodeni. Bila tulang terlibat, maka akan memperlihatkan perlunakan generalisasi dan pada kasus yang sangat lanjut terlihat pembentukan kista, fibrosis, deformitas, nyri dan fraktur. Hiperparatiroidisme dalam derajat yang nyata mungkin terdapat tampa perubahan klinis atau radiologist di dalam tulang yang dapat diperlihatkan. Kalsium urin yang tinggi menyebabkan poliuria osmotic yang menimbulkan polidipsi.kerusakan tubulus karena pengendapan kalsium meningkatkan poliuria. Pembentukan batu kalsium fosfat dan kalsium oksalat merupakan gejala yang lazim dipresentasikan.
            Diagnosa biasanya dilakukan dengan pengamatan gejala klinis dan biokimia. Bila diduga hiperparatiroidisme biasanya pemeriksaan kalsium plasma ( disertai protin plasma ) yang berulang. Pengukuran ekresi kalsium kadang-kadang berguna misalnya pada diet rendah klsium ( 2.5 mmol: 100 mg per hari ) maka secara normal diekresikan kurang dari 1,5 mmol (60 gram) per 24 jam, sedangkan bila ada pemecahan tulang berlebihan dari sebab apapun, dan funsi ginjal normal, ekresi lebih dari 5 mmol (200 mg) per 24 jam.
                                   
   3. PSEUDOHYPERPARATIROIDISME
            Pseudohiperpratiroidisme pada neoplasma malignat non-paratiroid menghasilkan sekresi yang bermacam-macam, khususnya parathyroidhormon (parathormon), parathormon-like polypeptide,prostaglandin E2  dan aktivitas osteoklas. Subtansi ini menyebabkan terjadinya osteolisis, osteolisis akan mengakibatkan peningkatan kadar kalsium plasma (hiperkalsemia).
4.      LESI TULANG OSTEOLITIK




5.      PENYAKIT GINJAL PRIMER (KUDA)
            Penyakit ginjal primer adalah salah satu gangguan pada ginjal yang timbul akibat  kerusakan jaringan dalam ginjal sendiri. Kegagalan ginjal ini dibagi dua yaitu 1) gagal ginjal akut yang terjadi jika kehilangan 70-100 % dari nepron, sedangkan 2) gagal ginjal kronis yang terjadi akibat kehilangan nepron yang terjadi secara berangsur-angsur dalam waktu lama. Jika kehilangan 65-70 % nepron maka ginjal tidak dapat mengkosentrasikan urin sehingga volume urin akan tinggi.
            Akibat kerusakan pada ginjal menyebabkan penurunan peredaran darah ke ginjal yang disebabkan vasokonstriksi internal, dimana ginjal merupakan organ ekresi.obstruksi lumen tubuli akibat degenerasi dan nekrosis sel-sel epitel ginjal menyebabkan kembalinya filtrate glomerolus kedalam kapiler  sehingga berkurangnya permeabilitas glomerolus. Secara singkat dapat disimpulkan akibat kerusakan pada ginjal gangguan dsirkulasi darah ke ginjal akan terganggu, dimana ginjal tidak berfungsi sebagai alat eksresi, sehingga akan terjadi penimbunan kalsium dalam darah.

6.      HYDROADRENOCORTICIMS
            Pada keadaan ini peningkatan kadar kalsium serum karena insuffiensi adrenal dan meningkatnya reabsopsi kalsium pada tubulus ginjal. Penurunan fungsi dari kelenjar adrenal atau penurunan fungsi dari ACTH akan menyebabkan pengurangan penggunaan ion kalsium sehingga kalsium akan meningkat dalam tubuh. Dan peningkatan reabsorpsi kalsium pada tubulus akan menyebabkan meningkatnya  kadar kalsium serum.

7.      HYPERPROTEINEMIA
            Meningkatnya kadar kalsium dalam darah menyebabkan terjadi hyperproteinemia, hyperproteinemia merupakan suatu keadaan meningkatnya kadar protein plasma diatas ambang normal, proten plasma ini berfungsi untuk proses pembekuan darah, mempertahankan berat badan, mempertahankan kadar Hb. Jika terjadi peningkatan jumlah kalsium darah maka metabolisme protein didalam saluran cerna terganggu, sehingga tripsin yang diekresikan oleh usus kecil akan mencerna protein dalam jumlah tak terbatas. Protein dalam jumlah tak terbatas ini akan diserap usus halus dan dibawa dalam sirkulasi darah, sehingga kadar protein dalam darah akan meningkat yang disebut hyperproteinemia.

  
   8. KESALAHAN DIAGNOSIS/LABORATORIUM
            Kesalahan diagnosis atau laboratorium dapat mengakibatkan hiperkalsemia misalnya: (1). Pemberian garam kalsium intravena seperti kalsium glukonat atau kalsium boroglukonat, selama pengumpulan sampel darah terutama sekali jika sample darah diambil dari kanula intravena yang sama atau dari vena yang sama, (2). Deterjent, residu deterjent pada gelas atau p;astik yang digunakan dapat menimbulkan kesalahan nilai kalsium, (3). EDTA, dapat menyebabkan peningkatan nilai kalsium dari kemampuan spectrophotometry dan (4). Lipaemia, pertambahan kekeruhan pada sample dapat menaikkan nilai dari autoanalysis.

               

HIPOKALSEMIA
Keadaan-keadan yang menyebabkan terjadinya hipokalsemia

1.      DEFISIENSI VITAMIN D
            Kekurangan vitamin D dapat disebabkan oleh pemaparan sinar matahari yang tidak mencukupi ataupun oleh sedikitnya vitamin D dalam makanan. Defisiensi vitamin D menyebabkan melinaknya tulang – tulang karena mineralisasi osteoid yang terganggu, jadi permukaan trabekuler tertutup oleh sebagian besar osteoid, tiap osteoid kelihatannya lebih tebal dari biasa.
            Kekurangan vitamin D selama kehamilan dapat menyebabkan osteomalasia dan rakitis pada bayi yang akan dilahirkannya. Pada orang tua defisiensi vitamin D  dapat terjadi karena kulit mereka menghasilkan sedikit vitamin D saat terpapar sinar matahari.
            Terjadinya hipokalsemia pada keadaan defisiensi vitamin D ini karena berkurangnya penyerapan kalsium pada usus dan terganggunya proses reabsopsi kalsium dari tulang dan mungkin juga dapat mempengaruhi reabsopsi pada tubulus ginjal terutam pada keadaan defisiensi paratiroidhormon.
  
2.      HYPOPARATIROIDISME
            Hipoparatiroidisme biasanya disebabkan oleh kerusakan vaskuler ke glandula karena kecelakaan atau pembuangan menyeluruh sewaktu tiroidektomi atau kadang-kadang karna radiasi atau beban besi berlebihan. Secara biokimia dapat disebabkan oleh defisiensi PTH sehingga terjadi suatu keadaan rendahnya kalsium serum,  kalsium serum turun bahkan tidak ada. Terdapat penurunan penarikan kalsium dari tulang yang menyebabkan penebalan tulang denan peningkatan densitas serta aktifitas osteoblas dan pembentukan tulang mungkin berkurang dan secara klinis hipoparatiroidisme dapat terjadi akbat rendahnya konsentrasi kalsium plasma yang terinisasi. Bila hipoparatiroidisme terjadi pada masa anak-anak muda pertumbuhan badan terhenti,pertumbuhan gigi terganggu dan terdapat retardasi mental.Dignosa dapat dilakukan dengan mengukur kadar kalsium darah.


3.      PARTURIENT PARESIS
            Parturient paresis adalah suatu penyakit metabolik pada sapi perah yang berumur 4 tahun atau lebih yang ditandai dengan hipokalsemia, yang terjadi segera sebelum, selama atau lebih sering dalam waktu 72 jam sesudah partus. Pada keadaan  ini PTH biasa bekerja secara normal.
            Faktor-faktor predis posisi meliputi umur dan produksi serta persistensi susu. Pemberian kalsium dengan kadar tinggi dan perbandingan Ca : P yang tinggi di dalam ransom pada periode kering dapat merangsang pelepasan kalsitonin dari kelenjar tiroid, sehingga menghambat resorpsi kalsium ke dalam tulang oleh PTH. Dengan demikian pada permulaan laktasi sewktu terdapat peningkatan kebutuhan akan kalsium sapi tersebut di paksa ke keadaan hipokalsemia dan terjadilah parturient paresis.Diagnosa biasanya dilakukan dengan penentuan kadar kalsium serum darah turun dari 8 sampai 12 mg menjadi 3 sampai 7 per 100 ml.

            4.EKLAMSIA
            Eklamsia dapat terjadi pada anjing dan sapi betina dari awal kebuntingan sampai beberapa bulan setelah menyapih, kadang-kadang tiga minggu setelah melahirkan.  Pada manusia kejadian ini dapat terjadi dengan gejala-gejala hipertensi Tekanan darah naik dengan cepat, albumin uria, edema hebat, kejang dan koma pada kasus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian.
            Pada kondisi eklamsia hipokalsemia dapat terjadi karena kalsium sangat dibutuhkan untuk pembentukan ktulang fetus, sehingga pada saat menyusui menyebabkab peningkatan mobilisasi kalsium dari tulang induk. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya eklamsia ini adalah alkalosis sistemik, stress dan lain-lain.

4.      HYPERPARATIROIDISME SEKUNDER
Hiperparatiroidisme sekunder merupakan suatu keadaan dimana sekresi  PTH meningkat lebih banyak diobandingkan keadan normal, karena kebutuhn tubuh meningkat sebagai proses kompensasi. Pada keadaan ini terdapat hyperplasia dan hiperfungsi merata pada keempat kelenjar paratiroid terutam chief cell
            Hiperparatiroidisme sekunder dapat terjadi pada keadan kelainan absorpsi, penyakit ginjal kronis. Pada keadaan ini kalsium kalsium darah mudah turun, dan turunnya kalsium darah akan merangsang pembentukan PTH oleh kelenjar paratiroid. PTH akan meningkatkan reabsorsi kalsium dari tulang sehingga terjadi osteomalasia  dan perubahan tulang lainnya yang sama dengan keadaan hyperparatiroidisme primer.Dignosa berdasarkan peningkatan kadar kalsium darah.



            6.KETOSIS
Ketosis adalah penyakit metabolisme pada sapi perah yang mempunyai produksi tinggi dan selalu berada dalam kandang, terjadi beberapa hari sampai beberapa minggu setelah kelahiran normal. Biasanya terjadi penurunan produksi secara drastir, hipoglikemia, ketonemia, ketonuria dan penderita tidak dapat berdiri, selalu dalam keadaan berbaring. Penyebab dar ketosis ini ada  dua teori. Yang pertama mengatakan bahwa ketosis disebabkan karena gangguan metabolisme karbohidrat atau kekurangan karbohidrat. Sedangkan teori kedua mengatakan bahwa terjadinya ketosis disebabkan karena gangguan fungsi adrenal. Kelenjar adrenal bagian luar yaitu kortek adrenal yang menghasilkan sejumlah hormone steroid.
Hormone steroid kortek adrenal ini salah satunya glukokortikoid, efek glukokortikoid yang sangat berhubungan dengan tulang yaitu mengurangi matrik osteoid tulang jadi akan mempermudah terjadinya osteoporesis dan kehilangamn berlebihan kalsium dari tubuh. Oleh kerena efek inilah maka sering terjadi ketosis pada sapiu yang menyebabkan terjadi hipokalsemia.

7. PANCREATITIS AKUT
           
            Pembengkakan  sel-sel asiner atau peradangan pancreas akut memperlihatkan adanya regurgitasi enzim-enzim pancreas ke dalam aliran darah. Gangguan-gangguan traktus gastrointestinal bagian atas lainnya  terutama perforasi tukak doedenum, obstruksi interstinal dan peritonitis yang mempengaruhi permukaan pancreas  yang terserang. Penyebab lain yang mungkin adalah  bocornya getah pancreas ke dalam kavitas peritoenalis yang menyebabkan hidrolisis lemak. Pada kasus pancreatitis akut ini pancreas tidak dapat mensekresi kan tripsinogen untuk mencerna protein. Dimana tripsinogen akan diaktifkan menjadi tripsin oleh enterokinase yang diekresikan oleh usus halus. Tripsin akan mengubah protein menjadi peptide. Kalsium terikan dengan peptide yang berupa sabun kalsium terganggunya metabolisme protein ini menyebabkan penyerapan kalsium berkurang, sehingga kadar kalsiumdarah berkurang timbullah keadaan hypokalsemia.

8. HYPOPROTEINEMIA
            Penurunan jumlah protein plasma menyebabkan anoreksi, tropi otot, kovalansi yang lambat setelah sakit, penyembuhan luka yang jelek, anemia hipokronik, kosentrasi albumin plasma menurun, dan kerusakan hati. Hypoproteinemia terjadi akibat gangguan dalam metabolisme protein sehingga jumlah protein tidak terpecahkan menjadi peptide sehingga tidak diserap ole usus. Kalsium yang masuk dari bahan-bahan makan  terikan dengan protein dalam bentuk sabun-sabun kalsium, gangguan metabolisme protein ini menyebabkan kalsium yang diabsorbsi usus juga berkurang sehingga menurunkan kadar kalsium dalam darah yang disebut dengan hypoproteinemia.


  9. TETANUS HYPOMAGNESIUM (RUMINANTS)
            Tetani adalah bentuk khusus kejang spastic yang terjadi akibat iritasi saraf perifer dan gangguan ganglion yang berhubungan dengan hipokalsemia. Hipokalsemia pada tetani terjadi akibat kelainan regulasi hemostatik kosentrasi kalsium serum.ion kalsium yang paling penting dalam terjadinya tetani adalah ion Ca2+ .
Penyebab terjadinya tetani selain dari penurunan kadar kalsium darah dan alkalosis  adalah hipomagnesemia yang juga dapat menyebabkan terjadinya tetani. Magnesium dianggap berhubungan dengan homeostasis kalsium dan phosphor karena keadaan yang sama akan memerlukan hormone sama pula untuk mengatur pengeluaran dari ion magnesium ini, berperan besar dalam mineral tulang. Hipomagnesia akan mengurangi sekresi parath hormone, peningkatan magnesium akan meningkatkan kosentrasi parathormnon  plasma dan selanjutnya meningkatakan kalsium plasma. Tetapi apabila terjadi hipomagnesemia maka akan diikuti oleh penurunan sekresi parathormon yang mengakibatkan kadar kalsium juga menurun(hypokalsemia).

10. HYPERADRENOCORTICIMSM
Hiperfungsi korteks adrenal dapat disebabkan oleh tumor jinak atau ganas pada kortek atau hyperplasia kortek adrenal yang diawali dengan kenaikan pembentukan ACTH. Sindrom Cushing menggambarkan hiperfungsi kortek adrenal yang langsung menyangkut kelenjar adrenal. Sindrom cushing ini ditandai  dengan peningkatan kosentrasi kortisol bebas yang bersirkulasi . peningkatan ACTH ini memberikan efek pada  metabolisme protein; penghentian pertumbuhan, atrofi otot, osteoporosis. Oesteporosis merupakan suatu indikasi yang menandakan pengurangan masa tulang yang normal, matrik dan kalsium. Secara biokimia terjadinya hyperadrenocorticsm yang diikuti oleh kenaikan ACTH akan meransang sintesa dan pengeluaran steroid melalui perantara cAMP karena zat ini meningkat pada irisa adrenal dalam beberapa menit oleh hormonetropik. cAMP sendiri dapat langsung meransang kerja ACTH. Peransangan sintesa steroid biasanya juga dihubungkan dengan perubahan struktur membrane mitokondria adrenal dan juga tergantung pada adanya ion kalsium. Jadi peransangan sintesa steroid terutama glokotikoid  yang makin meningkat akan menyebabkan semakin besarnya kemungkinan kehilangan ion kalsium dalam tubuh yang juga sangat berperan dalam sintesa steroid ini, dan semakin meningkatnya ACTH maka kebutuhannya akan kalsium untuk menjalankan fungsinya juga akan meningkat karena ACTH menyebabkan uptake dan redistribusu kalsium dalam adrenal maka akibat lanjut terjadinya hypokalsemia.

 






Terima kasih telah membaca artikel tentang KALSIUM di blog Medik Veteriner jika anda ingin menyebar luaskan artikel ini di mohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silakan bookmark halaman ini diwebbroswer anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.

Artikel terbaru :

Mas Sehat | Blog Tentang Kesehatan | Mas Sehat ~ Blog Tentang Kesehatan | www.mas-sehat.com